Total Tayangan Halaman

Senin, 14 Desember 2015

Manfaatkan Lahan Sekolah untuk Kebun Bawang

Pemberdayaan Lahan oleh Kepsek Bersama Komite SDN 12 Teunom, Aceh Jaya

Manfaatkan Lahan Sekolah untuk Kebun Bawang
Siswa turut serta menanam bibit bawang dalam karung sebelum dipindahkan ke lahan.
Oleh Wardiati, kepala SDN 12 Teunom, Aceh JayaSepetak lahan kosong yang saya miliki di dekat sekolah ternyata dapat memberikan manfaat bagi sekolah. Selama ini memang lahan tersebut tidak produktif dan terbiarkan begitu saja. Setelah mengikuti pelatihan MBS USAID PRIORITAS, muncul ide saya untuk memanfaatkan lahan tersebut untuk kebutuhan sekolah yang semakin meningkat dengan diterapkannya pembelajaran aktif. Memang selama ini banyak orang beranggapan bahwa semua biaya untuk kebutuhan penunjang pembelajaran harus berasal dari dana sekolah. Saya coba menunjukkan bahwa masyarakat juga dapat melakukan atau mendukung pembelajaran secara bersama.
Ide yang tercetus saat membuat RTL Pelatihan MBS itu saya wujudkan bersama komite sekolah dengan mengundang para wali murid untuk untuk menyampaikan program tersebut. Komite bersama para wali murid pun bersepakat untuk menanam bawang pada lahan kosong seluas 5 x 12 meter itu. Wali murid menyediakan bibit bawang dan pupuk kandang, sedangkan proses penanaman serta perawatannya dilakukan secara bersama.
Proses penanaman diawali dengan pengolahan dan pemupukan awal serta membuat bedeng (tumpukan tanah berbentuk jalur) seluas 1x10 meter sebanyak 3 bedeng. Proses tersebut dilakukan secara bersama selama 1 minggu setelah jam sekolah usai. Proses dilanjutkan dengan penanaman bibit bawang oleh wali murid sebanyak 5 kg. Setelah bawang ditanam, proses penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore hari.

Kepala sekolah dan orang tua bekerja sama menanam, merawat, dan memanen bawang yang ditanam. Hasilnya digunakan untuk menambah kebutuhan pembelajaran aktif di sekolah.

Untuk kegiatan ini wali murid dan masyarakat melakukannya secara bergiliran. Setelah bawang berumur 1 bulan, dilakukan proses pemupukan kembali dengan pupuk kandang yang diteruskan dengan pencabutan rumput liar di sekitar tanaman bawang. Pada bulan ketiga, bawang sudah dapat dipanen, kemudian dilakukan penjemuran dan siap dijual. Bawang dijual kepada masyarakat, guru, wali murid dengan penghasilan sebesar Rp 450.000. Uang hasil penjualan tersebut kami gunakan untuk membeli peralatan ATK untuk mendukung proses pembelajaran di kelas.
Dampaknya, kami melihat orang tua siswa merasa senang dilibatkan dalam proses pembelajaran di sekolah dan dapat menepis anggapan bahwa biaya untuk proses pembelajaran  tidak hanya bersumber dari sekolah, tetapi juga dapat disediakan secara bersama oleh masyarakat, wali murid, dan komite. Salah seorang orang tua murid menyatakan rasa bangganya ikut serta dalam proses ini.
“Kami sangat senang bisa membantu pembiayaan untuk proses belajar mengajar anak-anak kami di sekolah. Mungkin kalau diminta sumbangan dana, kami memiliki keterbatasan. Hanya sumbangan tenaga yang bisa kami berikan untuk menunjang proses pembelajaran anak-anak kami. Kami juga senang jika dapat dilibatkan secara langsung kedalam program-program yang ada di sekolah,” kata Ernawati, orang tua Elvi Fazlina, siswa kelas 4.

Panen Bawang untuk Menambah ATK Pembelajaran

Oleh Wardiati, kepala SDN 12 Teunom, Aceh Jaya

Panen Bawang untuk Menambah ATK Pembelajaran
Kepala sekolah, siswa, guru, dan orang tua bekerja sama menanam, merawat, dan memanen bawang yang ditanam. Hasilnya digunakan untuk menambah pembelian ATK yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran aktif di sekolah.
Aceh, Jaya, Aceh - Sepetak lahan kosong yang saya miliki di dekat sekolah ternyata dapat memberikan manfaat bagi sekolah. Selama ini memang lahan tersebut tidak produktif dan terbiarkan begitu saja. Setelah mengikuti pelatihan MBS USAID PRIORITAS, muncul ide saya untuk memanfaatkan lahan tersebut untuk kebutuhan sekolah yang semakin meningkat dengan diterapkannya pembelajaran aktif.
Memang selama ini banyak orang beranggapan bahwa semua biaya untuk kebutuhan penunjang pembelajaran harus berasal dari dana sekolah. Saya coba menunjukkan bahwa masyarakat juga dapat melakukan atau mendukung pembelajaran secara bersama.
Ide yang tercetus saat membuat RTL Pelatihan MBS itu saya wujudkan bersama komite sekolah dengan mengundang para wali murid untuk untuk menyampaikan program tersebut. Komite bersama para wali murid pun bersepakat untuk menanam bawang pada lahan kosong seluas 5 x 12 meter itu. Wali murid menyediakan bibit bawang dan pupuk kandang, sedangkan proses penanaman serta perawatannya dilakukan secara bersama.
Proses penanaman diawali dengan pengolahan dan pemupukan awal serta membuat bedeng (tumpukan tanah berbentuk jalur) seluas 1x10 meter sebanyak 3 bedeng. Proses tersebut dilakukan secara bersama selama 1 minggu setelah jam sekolah usai. Proses dilanjutkan dengan penanaman bibit bawang oleh wali murid sebanyak 5 kg. Setelah bawang ditanam, penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore hari.
Untuk kegiatan ini, wali murid dan masyarakat melakukannya secara bergiliran. Setelah bawang berumur 1 bulan, dilakukan proses pemupukan kembali dengan pupuk kandang yang diteruskan dengan pencabutan rumput liar di sekitar tanaman bawang. Pada bulan ketiga, bawang sudah dapat dipanen, kemudian dilakukan penjemuran dan siap dijual. Bawang dijual kepada masyarakat, guru, wali murid dengan penghasilan sebesar Rp 450.000. Uang hasil penjualan tersebut kami gunakan untuk membeli peralatan ATK untuk mendukung pembelajaran.
Dampaknya, kami melihat orang tua siswa merasa senang dilibatkan dalam proses pembelajaran di sekolah dan dapat menepis anggapan bahwa biaya untuk proses pembelajaran  tidak hanya bersumber dari sekolah, tetapi juga dapat disediakan secara bersama oleh masyarakat, wali murid, dan komite. Salah seorang orang tua murid menyatakan rasa bangganya ikut serta dalam proses ini.
“Kami sangat senang bisa membantu pembiayaan untuk proses belajar mengajar anak-anak kami di sekolah. Mungkin kalau diminta sumbangan dana, kami memiliki keterbatasan. Hanya sumbangan tenaga yang bisa kami berikan untuk menunjang proses pembelajaran anak-anak kami. Kami juga senang jika dapat dilibatkan secara langsung kedalam program-program yang ada di sekolah,” kata Ernawati, orang tua Elvi Fazlina, siswa kelas 4

Sekolah Efektif Guru Kreatif Kepala Sekolah Arif

 Kembangkan Sekolah Kita wahai Fasda dan Guru Bangsa

  
 Perubahan apa yang paling baik dilakukan guru? jawabannya adalah perubahan apa saja yang baik yang dapat dilakukan, karena apapun teori dan konsep sehebat apapun tidaka akan merubah sekolah kalau kita tidak melakukannya dari sekarang, dari yang kecil, dari apa saja dan dari siapa saja, guru harus bergerak walau hanya dengan satu-satu langkah yang penting terus melangkah maju.
  Sekolah maju bukanlah berpatokan pada letak madrasah di pusat kota atau fasilitas lengkap, karena ini adalah ciri khas dari sekolah modern. Sekolah maju adalah sekolah yang mampu menciptakan siswa/i siap tampil dimana-mana, kapan saja dan bidang apa saja sesuai dengan nama sekolah, daerah, budaya dan agama. 
Oleh karena itu orang besar yang menganggap kecil masalah penyaluran bakat minat anak kecil adalah salah besar!. Ironisnya lagi jika penyelenggara pendidikan mempercundang dalih letak madrasah di desa tidak bisa maju sebagaimana madrasah lain di kota. Penyelenggara pendidikan hendaklah ke depan mampu mengimbangi dan memfasilitasi serta memotivasi bakat minat siswa/i yang telah terdeteksi berpotensi besar untuk kemajuan sekolah pada tingkat kabupaten. Oleh karena itu keseriusan penyelenggara pendidikan terhadap proses pembelajaran intra kutrikuler dan kegiatan ekstra kurikuler sebagai ajang mengukir intelegensi siswa, mengembangkan bakat minat dan melatih lefe Skill (kemahiran hidup) generasi bangsa di masa depan harus diutamakan.  
Learning by doing (belajar sambil melakukan) dan learning by axperiencing (belajar sambil menrcari pengalaman) dapat menciptakan iklim positif penuh semangat senang di sekolah dan bersekolah dengan senang. Setiap siswa memiliki talenta istimewa yang berbeda-beda, hal ini merupakan gerbang yang terbuka lebar untuk sekolah harus maju tak gentar mengorbit semua siswa/i yang sangat berbakat. 
Bakat mereka yang terpendam dapat ditampilkan di mana saja dan kapan saja, jika para guru dapat mengukir dan mengasahnya. Bakat terpendam tak layak untuk dibiarkan atau diabaikan begitu saja tanpa kita menyediakan ifent dan ajang-ajang menantang yang menyenangkan untuk dapat mereka temukan dan kembangkan bakat minatnya dalam kegiatan intra dan ekstra. Kegiatan ekstra telah terbukti dapat meminimalisir kenakalan remaja dan mencegah masalah nasional tentang narkoba, karena dengan kegiatan ekstra mempersempit gerak bebas tanpa batas dan menyalurkan bakat minat mereka sehingga jiwa dan kemampuan mereka dapat berkembang dengan baik dan seimbang. 
Bakat remaja yang tidak tersalur tidak boleh dianggap biasa saja karena tanpa kepedulian dan kebijaksanaan tak segan-segan mereka salah mengambil tindakan. Menurut Prof. Dr. Tombak Alam, dalam bukunya "Keluargaku Syurgaku" "–jangan remehkan kentut telegu yang kecil kerana dia bisa membuat seekor gajah kapok...". Jeritan pilu penuh harap anak-anak desa ujung dunia, siapa yang mahu mendengarnya? kalau bukan kita para guru dan orang tua. Hari demi hari diharapkan kita lebih iklas dan mengarah kepada aksi plus dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan merancang secara sungguh-sungguh pembelajaran yang dinamis, efektif dan efesien dalam usaha mengembangkan proses pembelajaran, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, bimbingan dan pelayanan prima, penyaluran bakat minat, pengembangan diri dan evaluasi pendidikan. 
Rancangan pembelajaran ekstra harus mengacu kepada Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) dengan mengedepankan jalinan rasa simpati dan saling pengertian untuk menarik perhatian dan keterlibatan peserta dengan pola belajar sambil bermain. Jalinan rasa simpati dan pengertian yang tulus merupakan jembatan menuju pembelajaran yang bergairah dan menyenangkan dengan bahasa hati bisa memasuki dunia siswa, membaca bakat minat mereka, membina hubungan edukation, mengelola kelas dengan indah dan dapat belajar dengan penuh gairah. -Karena sejauh mana guru memasuki dunia siswa, sejauh itu pula pengaruh guru bagi kehidupan siswa. 
sekurang-kurangnya guru dapat mempertimbangkan landasan teori dari tulisan Quantum Learning dan Quantum Teaching,  yang mencakup aspek-aspek penting dalam programnew linguistics dan gabungan keseimbangan antara belajar sambil bermain. Sedangkan quantum teaching adalah interaksi pembelajaran yang mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri. Oleh karena itu pengembangan kegiatan intra dan ekstra kurikuler harus mempertimbangkan petunjuk yang spesifik untuk menciptakan lingkungan belajar sambil melakukan atau belajar sambil mengalami serta belajar sambil mencari pengalaman dengan kegiatan kerja langsung di lapangan. 
Disamping itu harus memperhatikan perkembangan dan tantangan masa depan yang menyangkut Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, globalisasi yang memungkinkan sangat cepatnya arus perubahan dan mobilitas antar dan lintas sektor, era informasi, pengaruh globalisasi terhadap perubahan perilaku dan moral siswa, dan era degradasi budaya, serta pengaruh lingkungan belajar dan perkembangan pembelajaran yang dihubungkan antara potensi daerah kita dengan kemajuan daerah-daerah lain. (Red. Ridwan, MA)

Hidangan Bernilai Sciantific; Siswa Uji Tumbuhan Berkarbn Hidrat di Ruang Belajar MIN Teunom




Fasilitator Provinsi Aceh Ridwan, MA dan Rahmat Hastiono, S.Pd koordinator rayon tim Monitoring dan Evaluasi USAID Prioritas utusan Destrik Coordinator Aceh Jaya Sriwahyuni, SH., M.Si temukan hidangan ala sciatific; uji tumbuhan berkarbon hidrat dengan betadine di ruang belajar.
Pembelajaran tanpa media tidak disenangi siswa dan membuat mereka kaku kalau hanya pindah tek dari buku. Respon siswa kurang bagus dalam pembelajaran jika alat bantu pembelajaran kurang menarik. Mengatasi kemandekan pemikran generasi yang menganggap semua sudah diteliti orang, jadi kita cukup baca saja, dektekan pada siswa dan jelaskan tan dimulai dengan percobaan.
Tujuan praktik ini untuk, memberikan pencerahan dalam pengklasifikasian tumbuhan yang engadung karbonhidrat dengan bereksprimen. Media belajar unik dengan memanfaatkan sampel tumbuhan dan mengujinya dengan betadine. Membiasakan siswadari usia 10 tahun kreatif bereksprimen untuk buktikan sesuatu dan temukan sesuatu. Merangsangkreatifitas siswa respek terhadap lingkungan dan inovatif dalam bereksperimen. Penggunaan media sederhana yang mudah dijangkau dan relevan, yang penting dapat membantu meningkatkan pemahaman siswa. 


Strategi/langkah praktik; Guru memperkenalkan sampel tumbuhan yang akan di uji, memancing pengelompokan jenis tumbuhan yang dijadikan sampel.  Klasifikasi penyimpanan klorofil pada buah, batang, akar dan umbi, tumbuhan yang dijakan sampel antara lain; buah apel, buncis, jagung, tebu, wolter, bawang merah, dan ubi kayu, alat-alat eksprimen antara lain; ulek-ulek (penumbuk), cawan penampung sampel, pisau, dan betadine sebagai pengganti lugol. 
 Langkah kerjanya adalah; tumbuk semua sampel secara terpisah sampai licin dan masukkan ke cawan secara terpisah-pisah, kemudian tuangkan betadine ke dalam semua cawan sampel secukupnya, perhatikan perubahan warna betadine; jika hitam pekat maka tumbuhan tersebut mengandung karbon hidrat, sedangkan jika warnanya kemerahan maka tumbuhan tesebut tidak mengandung karbon hidrat.

Pendapat guru Nurmita, S.Pd, saya sangat senang melatih siswa bereksprimen dari usia 10 tahun, lebih memahami teknikbereksprimen sederhana membuktikan tumbuhan berkarbonhidrat, lebih respek terhadap lingkungan dan tertarik dengan bereksprimen, lebih memahami materi dan memudahkan mereka mengingat pengalaman berbuat dari mendengar ceramah, membangun kerjasama tim bereksperimen secara komparatif learning, dan siswa dapat menemukan hasil eksperimen sendiri sehingga pemahaman terhadap materi jadi meningkat.
Pendapan Siswa 1. Alhuda Saina (P/10 th) Kls. V MIN Teunom; Alhamdulillah saya telah dapat merajang sayuran, menumbuk jagung, ubi kayu, kentang, wolter, buncis, dan apel. Saya lebih suka belajar dengan melakukan percobaan langsung kita buktikan apakah mengandung karbonhidrat atau tidak, lebih mudah mengingat pelajaran yang praktek langsung, menyenangkan dan sangat berkesan samapai ada teman kelompok lain anak perempuan belum bisa rajang bawang sampai jarinya luka. Harapannya jika saya menjadi guru nanti saya akan mengajarkan siswa dengan praktik langsung seperti ini.
Pendapan Siswa 2. Marza Kadarus (L/10 th) Kls. V MIN Teunom; Saya senang bisa bekerja langsung bersama-sama dengan teman satu kelompok, tapi waktu belajarnya sangat sedikit, lebih memahami pelajaran dengan kerja kelompok dan membuat uji coba langsung membuktikan tumbuhan mana yang banyak mengandung karbonhidrat. Pelajaran yang paling saya sukai adalah IPA dan SKI, alasannya karena IPA sering praktik langsung dengan menggunakan bahan buah-buahan, daun-daunan, gambar-gambar dan lain-lain yang berkaitang dengan hewan, tumbuhan dan manusia. Sedangkan SKI guru mengajarnya sering menggunakan gambar, cerita-cerita Islam, kemudian ada main peran drama. Harapan saya ke depan Ibu kepala sekolah melakukan belajar kepada semua guru dengan cara seperti ini agar kami semua bisa memahami dan seluruh kelas seperti ini

Kami sangat tertarik memonitoring pembalajaran kali ini karena para guru telah menggunakan saintifiknya dalam pembelajaran mereka. Kami mendokumentasikan langkah demi langkah pembelajaran, muda-mudahan dengan dimuatnya ini menjadi inspirasi bagi guru lain. (Red. Ridwan) 

Batu Cicin Bernilai Dolar Gemparkan Ruang Belajar MIN Kampong Baroe Teunom

Fasilitator Provinsi Aceh Ridwan, MA dan Rahmat Hastiono, S.Pd koordinator rayon tim Monitoring dan Evaluasi USAID Prioritas utusan Destrik Coordinator Aceh Jaya Sriwahyuni, SH., M.Si temukan batu cincin bernilai dolar dalam ruang belajar.
Batu madu panga tidak hanya dapat memancing estetika di jari, tetapi menjadi pemancing motivasi siswa  dalam pembelajaran di sekolah, tinggal tugas guru bagaimana menseting skenario pembelajaran menjadikan objek yang heboh dilinggkungan dimodifikasi sebagai sumber belajar siswa.
Hal yang melatar belakangai kretifitasini adalah karena melihat pembelajaran tanpa media tidak disenangi siswa dan membuat mereka kaku kalau hanya pindah tek dari buku. Respon siswa kurang bagus dalam pembelajaran jika alat bantu pembelajaran kurang menarik.
Mengatasi kemandekan pemikiran generasi yang menganggap semua sudah diteliti orang, jadi kita cukup baca saja, dektekan pada siswa dan jelaskan tanpa dimulai dengan percobaan.
Tujuan pembelajaran ini untunk memberikan pencerahan dalam pengklasifikasian Batu Madu Panga yang mengadung gaya yang di sebut medan Magnet. Media belajar unik dengan memanfaatkan sampel Batu madu Panga yang dapat di tarik perhatian siswa dan mengujinya dengan batu-batu yang ada contohnya batu basalt, batu granit dan Batu kuarsa dll.
Membiasakan siswa dari usia 10 tahun kreatif bereksprimen untuk buktikan sesuatu dan temukan sesuatu. Merangsang kreatifitas siswa respek terhadap lingkungan dan inovatif dalam bereksperimen. Penggunaan media sederhana yang mudah dijangkau dan relevan, yang pentingdapat membantu meningkatkan pemahaman siswa
Langkah pembelajarannya terpampang langsug dalam RPP Bapak Sudirman, S.Pd (29 th) sebagai pengajar hari itu. Guru memperkenalkan sampel batuan yang akan di uji, guru memancing pengelompokan jenis batu yang dijadikan sampel, klasifikasi penyimpanan batu mada Panga.
Batuan yang dijadikan sampel antara lain; batu madu panga, batu konglomerat, batu akik, batu Obsidian, (batuan kaca), batu granit, batu marmer  batu basalt, batu apung, batu sabak/tulis, batu kapur/gamping, batuan pasir, batu kuarsa, belerang, dan kerikil Gampong Baro.
Guru membagi siswa ke dalam 4 kelompok, dimana didalanya terdiri dari notulen, penguji, pengamat, dan juru bicara. Kemudian membagikan Lembaran kerja berbentuk matrik tabel klasifikasi bantuan dan logam yang diuji daya magnetnya. Alat-alat eksprimen antara lain; magnet (penguji), kertas sebagai wadah uji dan pasir untuk di jadikan sampel.
Langkah kerjanya adalah; Guru mempergunakan sampel batu, sampel logam dan alat uji. Guru memberikan peluang uji untuk setiap kelompok dan menulis hasil percobaan yang dilakukan dalam laporan. selaku alat penguji  satu diambil sampel tes uji coba secara terpisah batu tersebut ada perbedaan mana benda yang dapat di tarik oleh magnet dan ada benda yang tidak dapat di tarik oleh magnet. Perhatikan benda yang dapat di tarik oleh magnet dan ada batu di jadikan sumber belajar siswa di kelas V dalam menggali potensil dalam uji caba yang di praktekkan siswa secara langsung di depan kelas.
Berikut ini komentar  Bapak guru Sudirman, S.Pd; Saya sangat senang melatih siswa bereksprimen dari usia 10 tahun. Siswalebih memahami teknikbereksprimen sederhana membuktikan batu akik mengandung magnet.Siswa lebih respek terhadap lingkungan dan tertarik dengan bereksprimen. Siswalebih memahami materi dan memudahkan mereka mengingat pengalaman berbuat dari mendengar ceramah. Membangun kerjasama tim bereksperimen secara komparatif learning. Siswa dapat menemukan hasil eksperimen sendirisehingga pemahaman terhadap materi jadi meningkat
Beberapa siswa kami wawancarai,antara lain; Aisa Narvita (P/10 th) mengatakan: Alhamdulillah saya sudah mengenal batu madu panga yang heboh dijadikan mata cicin dan kerap menjadi bahan perbincangan di kalangan masyarakat Aceh Jaya. Saya telah dapat membedakan benda yang dapat di tarik oleh magnet dan ada yang tidak dapat di tarik oleh magnet. Saya lebih suka belajar dengan melakukan percobaan langsung kita buktikan apakah benda yang mengandung magnet. lebih mudah mengingat pelajaran yang praktek langsung, menyenangkan dan sangat berkesan.
pelajaran yang paling saya senangi adalah matematika dan IPA, karena materi bagus-bagus dan cukup menantang bagi saya, karena ibu Muliana dan Bapak Sudirman selalu membawa media belajar dan alat batu yang unik dan menarik. Harapannya jika saya menjadi guru nanti saya akan mengajarkan siswa dengan praktik langsung seperti ini.
Nazar Saputra (L/10 th) dengan gelagat bahasa Indonesia ala translit mengatakan; Alhamdulillah saya sudah mengenal batu madu panga sekarang yang dijadikan sumber belajar oleh Bapak sudirman. Menurut saya batu madu bagus dan sangat menarik dan pantas orang memperbincangkannya disamping mahal harga juga bagus bentuknya walau terkesan seperti karang.
Jika saya berkesempatan saya akan promosi model pembelajaran praktik langsung yang sangat menyenang, dan membuat saya menjadi tahu tentang gaya magnet. Saya senang bisa bekerja langsung bersama-sama dengan teman satu kelompok, ternyata batu madu bisa tidak hanya menarik bagi orang dewasa ternyata juga bisa dijadikan sumber belajar kami juga, tapi waktu belajarnya sangat sedikit. Saya lebih memahami pelajaran dengan kerja kelompok dan membuat uji coba langsung membuktikan dan teman saya langsung menulis apa reaksi batuan dan bahan logam yang saya uji.
Pelajaran yang paling saya sukai adalah IPA dan SKI, alasannya karena IPA sering praktik langsung dengan menggunakan bahan buah-buahan, daun-daunan, gambar-gambar dan lain-lain yang berkaitang dengan hewan, tumbuhan dan manusia. Sedangkan SKI guru mengajarnya sering menggunakan gambar, cerita-cerita Islam, kemudian ada main peran drama.
Harapan saya ke depan Ibu kepala sekolah melakukan belajar kepada semua guru dengan cara seperti ini agar kami semua bisa memahami dan seluruh kelas seperti ini.
Zibral Sugali (12th), ia lebih menguasai seluk beluk estetika ala dukun, tampak dari komentarnya; Bagus sekali ketika di senter berwarna merah berarti berharga “siribe sistim batee” berarti satu juta rupiah.
Saya senang jika batu madu panga dijadikan suber belajar sehingga saya bisa berbincang dan diskusi dengan guru dan teman-teman seperti oarang dewasa membicarakananya setiap hari.
Kalau saya jadi orang besar saya akan menjadi pengembang batu yang lebih unik dan menarik, jika bisa saya akan memperkembangbiakkan batu madu panga menjadi batu manisan Teunom.
Kami sangat tertarik memonitoring pembalajaran kali ini karena para guru telah menggunakan saintifiknya dalam pembelajaran mereka. Kami mendokumentasikan langkah demi langkah pembelajaran, muda-mudahan dengan dimuatnya ini menjadi inspirasi bagi guru lain. (Red. Ridwan, MA)

Batu Cicin Bernilai Dolar Gemparkan Ruang Belajar MIN Kampong Baroe Teunom

Fasilitator Provinsi Aceh Ridwan, MA dan Rahmat Hastiono, S.Pd koordinator rayon tim Monitoring dan Evaluasi USAID Prioritas utusan Destrik Coordinator Aceh Jaya Sriwahyuni, SH., M.Si temukan batu cincin bernilai dolar dalam ruang belajar.
Batu madu panga tidak hanya dapat memancing estetika di jari, tetapi menjadi pemancing motivasi siswa  dalam pembelajaran di sekolah, tinggal tugas guru bagaimana menseting skenario pembelajaran menjadikan objek yang heboh dilinggkungan dimodifikasi sebagai sumber belajar siswa.
Hal yang melatar belakangai kretifitasini adalah karena melihat pembelajaran tanpa media tidak disenangi siswa dan membuat mereka kaku kalau hanya pindah tek dari buku. Respon siswa kurang bagus dalam pembelajaran jika alat bantu pembelajaran kurang menarik.
Mengatasi kemandekan pemikiran generasi yang menganggap semua sudah diteliti orang, jadi kita cukup baca saja, dektekan pada siswa dan jelaskan tanpa dimulai dengan percobaan.
Tujuan pembelajaran ini untunk memberikan pencerahan dalam pengklasifikasian Batu Madu Panga yang mengadung gaya yang di sebut medan Magnet. Media belajar unik dengan memanfaatkan sampel Batu madu Panga yang dapat di tarik perhatian siswa dan mengujinya dengan batu-batu yang ada contohnya batu basalt, batu granit dan Batu kuarsa dll.
Membiasakan siswa dari usia 10 tahun kreatif bereksprimen untuk buktikan sesuatu dan temukan sesuatu. Merangsang kreatifitas siswa respek terhadap lingkungan dan inovatif dalam bereksperimen. Penggunaan media sederhana yang mudah dijangkau dan relevan, yang pentingdapat membantu meningkatkan pemahaman siswa
Langkah pembelajarannya terpampang langsug dalam RPP Bapak Sudirman, S.Pd (29 th) sebagai pengajar hari itu. Guru memperkenalkan sampel batuan yang akan di uji, guru memancing pengelompokan jenis batu yang dijadikan sampel, klasifikasi penyimpanan batu mada Panga.
Batuan yang dijadikan sampel antara lain; batu madu panga, batu konglomerat, batu akik, batu Obsidian, (batuan kaca), batu granit, batu marmer  batu basalt, batu apung, batu sabak/tulis, batu kapur/gamping, batuan pasir, batu kuarsa, belerang, dan kerikil Gampong Baro.
Guru membagi siswa ke dalam 4 kelompok, dimana didalanya terdiri dari notulen, penguji, pengamat, dan juru bicara. Kemudian membagikan Lembaran kerja berbentuk matrik tabel klasifikasi bantuan dan logam yang diuji daya magnetnya. Alat-alat eksprimen antara lain; magnet (penguji), kertas sebagai wadah uji dan pasir untuk di jadikan sampel.
Langkah kerjanya adalah; Guru mempergunakan sampel batu, sampel logam dan alat uji. Guru memberikan peluang uji untuk setiap kelompok dan menulis hasil percobaan yang dilakukan dalam laporan. selaku alat penguji  satu diambil sampel tes uji coba secara terpisah batu tersebut ada perbedaan mana benda yang dapat di tarik oleh magnet dan ada benda yang tidak dapat di tarik oleh magnet. Perhatikan benda yang dapat di tarik oleh magnet dan ada batu di jadikan sumber belajar siswa di kelas V dalam menggali potensil dalam uji caba yang di praktekkan siswa secara langsung di depan kelas.
Berikut ini komentar  Bapak guru Sudirman, S.Pd; Saya sangat senang melatih siswa bereksprimen dari usia 10 tahun. Siswalebih memahami teknikbereksprimen sederhana membuktikan batu akik mengandung magnet.Siswa lebih respek terhadap lingkungan dan tertarik dengan bereksprimen. Siswalebih memahami materi dan memudahkan mereka mengingat pengalaman berbuat dari mendengar ceramah. Membangun kerjasama tim bereksperimen secara komparatif learning. Siswa dapat menemukan hasil eksperimen sendirisehingga pemahaman terhadap materi jadi meningkat
Beberapa siswa kami wawancarai,antara lain; Aisa Narvita (P/10 th) mengatakan: Alhamdulillah saya sudah mengenal batu madu panga yang heboh dijadikan mata cicin dan kerap menjadi bahan perbincangan di kalangan masyarakat Aceh Jaya. Saya telah dapat membedakan benda yang dapat di tarik oleh magnet dan ada yang tidak dapat di tarik oleh magnet. Saya lebih suka belajar dengan melakukan percobaan langsung kita buktikan apakah benda yang mengandung magnet. lebih mudah mengingat pelajaran yang praktek langsung, menyenangkan dan sangat berkesan.
pelajaran yang paling saya senangi adalah matematika dan IPA, karena materi bagus-bagus dan cukup menantang bagi saya, karena ibu Muliana dan Bapak Sudirman selalu membawa media belajar dan alat batu yang unik dan menarik. Harapannya jika saya menjadi guru nanti saya akan mengajarkan siswa dengan praktik langsung seperti ini.
Nazar Saputra (L/10 th) dengan gelagat bahasa Indonesia ala translit mengatakan; Alhamdulillah saya sudah mengenal batu madu panga sekarang yang dijadikan sumber belajar oleh Bapak sudirman. Menurut saya batu madu bagus dan sangat menarik dan pantas orang memperbincangkannya disamping mahal harga juga bagus bentuknya walau terkesan seperti karang.
Jika saya berkesempatan saya akan promosi model pembelajaran praktik langsung yang sangat menyenang, dan membuat saya menjadi tahu tentang gaya magnet. Saya senang bisa bekerja langsung bersama-sama dengan teman satu kelompok, ternyata batu madu bisa tidak hanya menarik bagi orang dewasa ternyata juga bisa dijadikan sumber belajar kami juga, tapi waktu belajarnya sangat sedikit. Saya lebih memahami pelajaran dengan kerja kelompok dan membuat uji coba langsung membuktikan dan teman saya langsung menulis apa reaksi batuan dan bahan logam yang saya uji.
Pelajaran yang paling saya sukai adalah IPA dan SKI, alasannya karena IPA sering praktik langsung dengan menggunakan bahan buah-buahan, daun-daunan, gambar-gambar dan lain-lain yang berkaitang dengan hewan, tumbuhan dan manusia. Sedangkan SKI guru mengajarnya sering menggunakan gambar, cerita-cerita Islam, kemudian ada main peran drama.
Harapan saya ke depan Ibu kepala sekolah melakukan belajar kepada semua guru dengan cara seperti ini agar kami semua bisa memahami dan seluruh kelas seperti ini.
Zibral Sugali (12th), ia lebih menguasai seluk beluk estetika ala dukun, tampak dari komentarnya; Bagus sekali ketika di senter berwarna merah berarti berharga “siribe sistim batee” berarti satu juta rupiah.
Saya senang jika batu madu panga dijadikan suber belajar sehingga saya bisa berbincang dan diskusi dengan guru dan teman-teman seperti oarang dewasa membicarakananya setiap hari.
Kalau saya jadi orang besar saya akan menjadi pengembang batu yang lebih unik dan menarik, jika bisa saya akan memperkembangbiakkan batu madu panga menjadi batu manisan Teunom.
Kami sangat tertarik memonitoring pembalajaran kali ini karena para guru telah menggunakan saintifiknya dalam pembelajaran mereka. Kami mendokumentasikan langkah demi langkah pembelajaran, muda-mudahan dengan dimuatnya ini menjadi inspirasi bagi guru lain. (Red. Ridwan, MA)