Total Tayangan Halaman

Sabtu, 05 November 2016

Pengaruh Percaya Diri Wirausahawan Terhadap Keberhasilan Usaha di Era Digital (Kajian Kewirausahaan Suku Sasak Sade dan Gili Trawangan Lombok NTB)

Ridwan
PIPS Pascasarna UNESA

Rika Sufyantika
PIPS Pascasarna UNESA
sufiyantikarika@gmail.com

Abstrak
Inti kewirausahaan adalah kemandirian seseorang untuk bertanggung jawab atas nasibnya. Kemandirian yang dibangun dari perjalanan sepanjang kehidupan individu, baik hasil dialog saat kesendiriannya maupun hasil dari proses komunikasi dengan lingkungannya. Kemandirian dalam kewirausahaan tiada lain “kebebasan” atau “kemerdekaan”. Oleh karena itu, kemandirian membutuhkan kepercayaan diri yang terukur. Para wirausahawan biasanya memiliki karakter percaya diri yang matang sehingga membuat sebuah usaha berhasil, bagaimana pengaruh percaya diri  wirausahawan terhadap keberhasilan mengelola usaha tentunya perlu di teliti lebih lanjut. maka perlu diadakan penelitian mengenai "Pengaruh Percaya Diri Usahawan Terhadap Keberhasilan Usaha di Era Digital" Penelitian ini dilakukan di Sade dan GiliTrawangan Lombok Nusa Tenggara Barat dengan mengambil sample dari personil pelaku usaha kecil. Metode dalam penelitian ini adalah deskriftif dimana penelitian yang bertujuan memperoleh deskriftif tentang ciri-ciri variabel bebaswirausahawan percaya diri dan variabel terikat keberhasilan usaha.
 Kata Kunci : Kewirausahaan, Percaya Diri, Keberhasilan Usaha


Abstract
The essence of entrepreneurship is the independence of a person to be responsible for his fate. The independence of individual life journeys, either alone or when the dialogue results the results of the process of communication with its environment. Independence in no other "entrepreneurial freedom" or"independence". Therefore,independence need confidence that measurable. The entrepreneur usually has the character of a mature confidence so as to make a business successful, how the influence of confident entrepreneur against the success of managing effort surely needs to be careful in further. Hence the need to research about"effect Confidently Turned Towards the success of the business in the Digital Era" this research was conducted in Sade and Lombok GiliTrawangan WNT to take a sample from a small trade personnel. The method in this research is deskriftif where research aimed at acquiring the deskriftifabout characteristics of the free variables of entrepreneur confidenceand variablesbound to the success of the effort.
 Keywords: Entrepreneurship, Self-confidence, Success Venture

Pendahuluan
Kajian social studies tentang percaya diri dalam berwira usahan di era digital telah menarik perhatian banyak peneliti, antara lain; dari aspekeksternal terlihat dalam penelitian hubungan antara kepercayaan diri dan dukungan orang tua dengan motivasi berwirausaha (Maulida dan Dhania, 2012), strategi pemberdayaan UMKM menghadapi pasar bebas Asean (Suranto, 2012),an exploration of social entrepreneurship in the entrepreneurship eraeksplorasi kewirausahaan socialdi era kewirausahaan (Noruzi, 2010), dan muslim entrepreneurship: membangun muslim peneurs characteristics dengan pendekatan knowladge based economy (Antoni, 2014). Dilihat dari aspek internal adanya peneitian era perspektif baru kajian kewirausahaan: studi komunikasi intrapersonal (Priatna, 2010),  sikap, motivasi, dan minat berwirausaha mahasiswa (Rosmiati, Junias, dan Munawar, 2015), pentingnya penilaian potensi diri wirausaha sebagai pondasi untuk mensukseskan program mahasiswa wirausaha (Suwena, 2015), pengaruh kepribadian wirausaha, pengetahuan kewirausahaan, dan lingkungan terhadap minat berwirausaha (Aprilianty, 2012), dan percaya diri, keingintahuan, dan berjiwa wirausaha: tiga karakter penting bagi peserta didik (salirawati, 2012),
Penelitian lain yang mengkaji hubungan percaya diri dengan hasil usaha tertuang dalam kajian hubungan karakteristik wirausaha terhadap keberhasilan usaha studi kasus pada pengusaha kecil di Pekalongan (Jumaedi, 2012),pengaruh faktor-faktor yang dapat memotivasi mahasiswa berkeinginan wirausaha (Oktarilis, 2012), pengaruh jiwa kewirausahaan terhadap keberhasilan usaha distro di Kota Bandung studi pada distro yang terdaftar pada kick di Kota Bandung (Balqish, 2014), minat mahasiswa menjadi wirausaha (budiati, yani dan universari, 2012).
Beberapa penelitian tentang percaya diri yang berkaitan kewirausahaan juga dituangkan dalam bidang psikologi, antara lain; dalam aspek interpersonal adanya penelitian efektivitas pengembangan potensi diri dan orientasi wirausaha dalam meningkatkan sikap wirausaha (Kadiyono, 2014),effect of meditation on self confidence efek dari meditisai terhadap percaya diri (Singh dan Kaur, 2008),ability and self-confidence kemampuan dan percaya diri (Hendriana, Rahmat, dan Sumarmo, 2014). Dari aspek sosial telah dilakukan penelitian effects of social support on self-esteem efek dukungan sosial pada harga diri (Naeem,Shabir, Umar, AzharNadvi, Hayat, dan Azher, 2014). Peneliti lain yang memfokuskan kajian tentang percaya diri erat kaitannya dengan kapasitas diri terlihat dari penelitian hubungan antara kepercayaan diri dengan employability(Saputro dan Suseno, 2010), pengaruh pelatihan berfikir positif pada efikasi diri (Dwitantyanov, Hidayati, dan Sawitri, 2010). Hubungan antara tingkat kecemasan komunikasi dan konsep diri dengan kemampuan beradaptasi (Muharomi, 2012).
Dalam penelitian ini peneliti mencoba mengembangakan teori sosial David McClellandN-Ach hasrat untuk meraih prestasi setinggi-tingginya. Oleh karena itu berbagai penelitian yang berlatar belakang pentingnya percaya diri sebagai wujud nyata dari motivasi untuk meraih prestasi dalam berwira usaha penulis kaji dengan cermat. Menurut hemat penulis penelitian tentang pembinaan percaya diri dalam kewira usahaan sangat urgen dilakukan.
Wirausaha adalah kegiatan menciptakan barang atau jasa melalui proses yang saling berkesinambungan, antara proses produksi sebagai proses inti dengan proses-proses pendukung yaitu proses sumber daya manusia, proses perencanaan, proses pemasaran dan proses-proses yang lain. Sedangkan pelaku dari wirausaha disebut Wirausahawan.Kepercayaan diri wirausahawan telah mampu memberikan pandangan yang lebih komprehensif tentang kewirausahaan. individu telah  memilih jalan hidup sebagai wirausahawan, telah mampu melampaui kekhawatiran akan “keamanan penghasilan” (gaji rutin meskipun rendah), seandainya dia memilih profesi sebagai pegawai perusahaan atau pemerintah. Wirausahawan telah melepaskan diri dari budaya “prihatin asal aman”, dengan kemampuan dan keberanian mengambil resiko meskipun usaha kecil.
Dari sisi peran usaha kecil memberi kontribusi yang besar dalam pergerakan perekonominan di era digita. Ada beberapa alasan mengapa usaha kecil mempunyai pengaruh yang besar terhadap perekonomian diantaranya adalah bahwa usaha kecil secara historis dikenal mampu menampung tenaga kerja, lebih inovatif, dan memberikan kontribusi penting bagi perusahaan-perusahaan besar. Usaha kecil sering disebut "katup pengaman" dalam masalah penganguran dan berperan besar sebagai pemasok dan pengecer bagi operasi perusahaan besar.

Berdasarkan latar belakang yang penulis kemukakan diatas, penulis mengidentifikasikan permasalahan bagaimana pengaruh percaya diri pengusaha terhadap keberhasilan usaha. Adapun tujuan dari penelitian adalah: Untuk mengukur seberapa besar pengaruh percaya diri terhadap keberhasilan usaha. 

Sabtu, 29 Oktober 2016

Arradhi, Nasyifa, Haula, dan Laura Menyelam di Pulau Gili Trawangan Lomb...

Penyeberangan dari Gili Trawangan ke Pelabuhan Bangsal Lombok NTB

Penyeberangan dari Gili Trawangan ke Pelabuhan Bangsal Lombok NTB

Penyeberangan dari Gili Trawangan ke Pelabuhan Bangsal Lombok NTB

Terdampar di Gili Trawangan Lombok NTB Mesin Mati ombak sped bout lain s...

Penyeberangan Seru Menuju Gili Trawagan Lombok NTB 2016

Penyeberangan Seru Menuju Gili Trawagan Lombok NTB 2016

Bertenun skill Khas Suku Sasak Lombok NTB di Desa Sukarara

Jumat, 07 Oktober 2016

Arradhi Mubarak Ilmi aksi unik memakan jangkrik di Mesjid Rundeng Meulab...

Arradhi Mubarak Ilmi bersekolah di TK Desa Cot Trap

Arradhi Mubarak Ilmi aksi unik dan aneh pada tahun 2012

Arradhi Mubarak Ilmi ikut umi test Calon Anggota DPRA di Banda Aceh

Arradhi Mubarak Ilmi beradaptasi di TK Desa Cot Trap

Arradhi Mubarak Ilmi aksi unik menidurkan adiknya pada tahun 2014

Arradhi Mubarak Ilmi Tahun 2012 memory wisata ikut Abi S2 di Banda Aceh

Arradhi Mubarak Ilmi Tahun 2012 memory wisata ikut Abi S2 di Banda Aceh

Sabtu, 01 Oktober 2016

Media Kunyit Uji Air yang terkontaminasi bahan Kimia

Media Kunyit Uji Air yang terkontaminasi bahan Kimia

Kunyit Uji Air terkontaminasi bahan Kimia

Media belajar Stetoskop dari corong minyak Ridwan, MA di MTsN Teunom

MTsN Teunom Kegiatan Bakti Pramuka by Ridwan gelar halal bihalal Kemukim...

Ridwan, MA Vidio Drama Remaja Malin Tsunami Kondang

Arradhi Mubarak Ilmi ikut acara karnaval sambut ramadhan di Taman Bungku...

Arradhi Mubarak Ilmi ikut acara karnaval sambut ramadhan di Taman Bungku...

Kamis, 12 Mei 2016

Sejarah Sosial Politik Indonesia Abad VII-XV

Cikal bakal kekuasaan Islam telah dirintis pada periode abad 1 H/7 M, tetapi semuanya tenggelam dalam hegemoni maritim Sriwijaya yang berpusat di Palembang dan kerajaan Hindu-Jawa seperti Singasari dan Majapahit di Jawa Timur. Pada periode ini para pedagang dan Mubaligh Muslim membentuk komunitas-komunitas Islam. Mereka memperkenalkan Islam yang mengajarkan toleransi dan persamaan derajat di antara sesama, sementara ajaran Hindu-Jawa menekankan perbedaan derajat manusia. Ajaran Islam ini sangat menarik perhatian penduduk setempat. Karena itu, Islam tersebar di kepulauan Indonesia terhitung cepat, meski dengan damai.


Masuknya Islam di daerah-daerah di Indonesia tidak dalam waktu yang bersamaan. Di samping itu, keadaan politik dan sosial budaya daerah-daerah ketika didatangi Islam juga berlainan. Pada abad ke 7-10 M, kerajaan Sriwijaya meluaskan kekuasaannya ke daerah semenanjung Malaka sampai Kedah. Hal ini erat hubungannya dengan usaha penguasaan Selat Malaka yang merupakan kunci bagi pelayaran ke daerah itu sama sekali belum memperlihatkan dampak-dampak politik, karena mereka datang memang hanya untuk pelayaran dan perdagangan.

Keterlibatan orang-orang Islam dalam politik baru terlihat pada abad 9 M, ketika mereka terlibat dalam pemberontakan petani-petani Cina terhadap kekuasaan T’ang pada masa pemerintahan Kaisar Hi-Tsung (878-889 M). Akibat pemberontakan itu, kaum Muslimin banyak yang dibunuh. Sebagian lainnya lari ke Kedah, wilayah yang masuk kekuasaan Sriwijaya, bahkan ada yang di Palembang dan membuat perkampungan Muslim di sini (:Uka Tjandrasasmita, Sejarah Nasional Indonesia III [Jakarta: PN Balai Pustaka, 1984 hal. 2). Kerajaan Sriwijaya pada waktu itu memang melindungi orang-orang Muslim di wilayah kekuasannya.

Kemajuan politik dan ekonomi Sriwijaya berlangsung sampai abad 12 M. Pada akhir abad ke 12 M, kerajaan ini mulai memasuki masa kemundurannya. Untuk mempertahankan posisi ekonominya, kerajaan Sriwijaya membuat peraturan cukai yang lebih berat bagi kapal-kapal dagang yang singgah ke pelabuhan-pelabuhannya. Akan tetapi usaha ini tidak mendatangkan keuntungan bagi kerajaan, bahkan sebaliknya karena kapal-kapal dagang asing seringkali menyingkir. Kemunnduran ekonomi ini membawa dampak terhadap perkembangan politik.

Kemunduran politik dan ekonomi Sriwijaya dipercepat oleh usaha-usaha kerjaan Singosari yang sedang bangkit di Jawa. Kerjaan Jawa ini melakukan ekspansi Pamalayu tahun 1275 M dan berhasil mengalahkan kerajaan Melayu di Sumatera. Keadaan ini mendorong daerah-daerah di Selat Malaka yang dikuasai kerajaan-kerajaan Sriwijaya melepaskan diri dari kekuasaan kerajaan tersebut.

Kelemahan Sriwijaya dimanfaatkan pula oleh pedagang-pedagang Muslim untuk mendapatkan keuntungan di bidang politik dan pedagangan. Mereka mendukung daerah-daerah yang muncul dan daerah yang menyatakan diri sebagai daerah yang bercorak Islam, yaitu kerjaan Samudera Pasai di pesisir Timur Laut Aceh. Daerah ini sudah disinggahi pedagang-pedagang Muslim sejak abad ke 7 dan ke 8 M. Proses Islamisasi tentu berjala di sana sejak abad tersebut. Kerajaan Samudera Pasai dengan segera berkembang baik dalam bidang politik maupun perdagangan.

Karena kekacauan-kekacauan dalam negeri sendiri akibat perebutan kekuasaan di istana, Kerajaan Singasari, juga pelanjutnya: Majapahit, tidak mampu mengontrol daerah Melayu dan Selat Malaka dengan baik, sehingga kerajaan Samudera Pasai dan Malaka dapat berkembang dan mencapai puncak kekuasaannya hingga abad ke 16 M.

Di kerajaan Majapahit, ketika Hayam Wuruk dengan Patih Gajah Mada masih berkuasa, situasi politik pusat kerajaan memang tenang, sehingga banyak daerah di kepulauan Nusantara mengakui berada di bawah perlindungannya. Tetapi sejak Gajah Mada meninggal dunia (1364 M) dan disusul Hayam Wuruk (1389 M), situasi Majapahit kembali mengalami kegoncangan. Perebutan kekuasaan antara Wikramawhardana dan Bhre Wirabumi berlangsung lebih dari sepuluh tahun. Setelah Bhre Wirabumi meninggal, perebutan kekuasaan di kalangan istana kembali muncul dan berlarut-larut.

Pada tahun 1468 M Majapahit diserang Girindrawardhana dari Kediri. Sejak itu, kebesaran Majapahit dapat dikatakan sudah habis. Tom Pires (1512-1515 M), dalam tulisannya “Suma Oriental”, tidak lagi menyebut-nyebut nama Majapahit. Kelemahan-kelemahan yang semakin lama semakin memuncak akhirnya menyebabkan keruntuhannya.